Yogyakarta, 28 November 2013
Hari ini adalah hari yang sangat berharga dalam hidupku.
Beberapa jam yang lalu aku mengikuti sebuah seminar nasional sastra islam dan kepenulisan di
Universitas Negeri Yogyakarta. Hmmm... kampus impian... :)
Siapa pembicaranya???
My favorite writer, Pak Habiburrahman El Shirazy. Suerrr.. hari ini kayak mimpi.
Tak pernah kuduga sebelumnya aku benar-benar bisa bertatap muka dengan penulis idola.
Seneng banget bisa denger suaranya langsung dan yang maha penting dapet motivasinya.
Pokoknya aku bersyukur banget dan banyak ngucapin terimakasih, pertama untuk Sang Khalik,
kedua untuk Baginda Nabi Muhammad SAW, pokoknya ini hari keduaku ngebuktiin ampuhnya
sholawat,subhanallah... Thanks buat Chandra yang udah kasih info seminar ini,
mbak Amel thanks for all...
Tempat tidurnya, maemnya, Hpnya, dan semuanya ajalah... Kalian berdua emang jadi pahlawanku.
Hehe... Terakhir buat semuanya aja thanks banget pokoknya.
Begini ceritanya....
Awal mula mau berangkat seminar harus perjuangan izin mbak Datik selaku pengurus
pondok dan Umi Wardah selaku pengasuh pondok. Setelah lolos, alhamdulillah berangkat
ke Jogja tanpa alat komunikasi apapun. Ya Rabb, pokoknya aku percaya padaMu semisal Engkau meridhoi,
semua pasti lancarlancar saja. Bismillah.. ku langkahkan kaki dengan mantap untuk berangkat
meski bawa ongkos uang pinjeman.
Tidak apa-apa ini demi sebuah ilmu. Kesempatan nggak datang 2 kali apalagi ini
seminar nasional dengan pembicara Pak Habiburrahman El Shirazy, penulis idolaku.
Aku berangkat dengan penuh keyakinan.
Aku juga yakin suatu saat nanti Allah pasti melebihkan rezeki untuk menutup hutangku
jika Allah benar-benar meridhoi tujuanku ini.
Tholabul ‘ilmi......
Waktu keluar pondok seolah aku melihat dunia ini terasa luas. Aku tersenyum dengan penuh
keyakinan,berarti harapan juga masih tinggi, batinku. Sampai di jalan raya, angkot sepi.
Aku nekat jalan kaki.Sebenernya aku sebel dengan diriku sendiri soalnya ini udah telat,
mbak Amel nunggu aku di UNY jam 3 sore,ini udah pukul setengah tiga. Aku jadi merasa bersalah.
Apakah aku erlambat gara-gara harus membantumbak Rokah jaga kantin tadi siang sampai aku terlambat seperti ini?
Satu pertanyaan retoris muncul di benakku.
Astagfirllah, aku suudzon. Akhirnya aku memilih diam dan menghapus pertanyaan konyolku tadi.
Tiba-tiba aku teringat kata-kata salah seorang temenku,
“ Segala sesuatu itu pasti ada hikmahnya tak usah disesali.”
Benar juga, segala sesuatu yang diikhlaskan pasti akan diganti dengan yang lebih baik.
Aku terus berjalan menyusuri trotoar. Tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti tepat di sampingku.
Setelah ku toleh ternyata mbak Astik. Dia nggak tega liat aku berjalan sendirian terus
nganterin aku sampai Siyono. Yang tak terduga lagi dia bawain aku Blackberry. Katanya buat
komunikasi selama di Jogja. Yah meski saat itu BBnya mati dan perlu di caz. Nggak apa-apa buat jaga-jaga, aku bawa saja.
Lumayan setidaknya bawa alat komunikasi. Thanks a lot mbak Astik.
Waktu mau naik bis ketemu sama ibuknya mbak Nafis. Sepanjang jalan ku lantunkan sholawat berharap
diberi kelancaran dan perlindungan di perjalanan. Ini resep dari mas Wahab, ustadz senior di pondok dan
aku iseng mempraktekkannya. Waktu kondektur lewat dan aku mau kasih uang, dia nolak katanya udah dibayarin.
wow siapa??? Ternyata ibuknya mbak Nafis. Angkot tak dapat, diganti sepeda motor, gratis. Bonus BB lagi.
Naik bis sampai rengroat udah dibayarin. Alhamdulillah.... J
Abis itu naik bis jalur 4. Pokoknya masih teringat jelas dalam memori ingatanku tentang pesennya mbak Amel.
“ Dari rengroat naik bis jalur 4 minta turun di masjid UGM. Nyebrang jalan , naik , belok kanan ke UNY.
Nanti aku tunggu di sana. Bayar bisnya 3 ribu aja.”
Inilah pesan mbak Amel, aku inget-inget sampai aku catet di buku catatanku. Sampai saat ini aku masih hafal.
Hehe.. maklum ini kali pertama aku ke Jogja ngebis sendirian, mana BB mati lagi.
Sampai terbesit dalam pikiranku kalau semisal nanti nggak ketemu mbak Amel aku mau nekat tidur di masjid UGM.
Haha..yah beginilah andalan seorang santri. Jalan terakhir kalau udah mentok. J
Akhirnya bisa duduk nyaman di bis 4. Waktu sekian lama aku merasa aman-aman saja tiba-tiba sopirnya
pin plan nurunin semua penumpang gara-gara tahu rombongan ibu-ibu yang lumayan banyak lagi nunggu bis.
Wah sopir kurang TJ ne. Aku turun di Malioboro dengan sangat kecewa. Untung uang dikembaliin kalau
nggak,bisa nggak berhenti ni mulut ngomel-ngomel. Hanya bisa berharap dapet bis, kalau nggak mau tidur
dimana nanti malem? Ini belum sampai di masjid UGM.
Sedangkan masjid UGM saja aku nggak tahu kayak apa bentuknya dan dimana tempatnya. Lamunanku terbuyar saat kutoleh ke kanan, sebuah bis datang dari arah kejauhan. Fiuhhh slamettttt.... J
Turun di masjid UGM dan aku praktekan semua kata-kata dari mbak Amel tadi. Dan... Yesss berhasil aku sampai di UNY.
Setelah memasuki kawasan UNY, rasanya nyaman banget serasa masuk kampus sendiri.
Hehe... Setelah aku melangkah agak jauh masuk kampus tiba-tiba aku baru sadar, kenapa tadi aku nggak nanya samambak Amel dia nunggu di bagian mana. Mencari segelintir orang di Universitas yang super luas ini ibarat mencari jarum ditumpukan jerami. Hmm... aku menghembuskan nafas dengan kesal menyesali kecerobohanku sendiri. Kuputuskan untuk tetap nekat berjalan semisal nanti nggak ketemu mbak Amel berarti aku balik ke masjid UGM. Kulirik segerombol mahasiswi yang berbincang-bincang di bawah pohon dan berharap menemukan mbak Amel. Keperhatikan dengan sedikit
mencuri-curi pandang wajah itu satu persatu.
Walhasil mbak Amel nggak ada. Aku terus berjalan dengan sedikit kegamangan. Bingung mau melangkah kemana lagitapi aku yakin bisa nemuin mbak Amel.
Namun satu pertanyaan muncul lagi, kenapa tadi aku nggak nanya atau ngasih tahu setidaknya pake baju warna apa?
Mungkin akan sedikit mempermudah pencarian ini. Hmm.. semua udah terlanjur. Mataku minus,
nggak bisa melihat jarak jauh.
Semua wajah yang kulihat dari kejauhan seperti diblur, tidak jelas. Kabur. Tiba-tiba
aku tersenyum ketika kudapati seorang mahasiswi berdiri di depan sebuah gedung dengan senyum mengembang. Meski belum terlihat jelas wajahnya tapi aku yakin itu kayak mbak Amel.
Tapi kalau semisal bukan, dan dia tersenyum dengan orang lain? Ngalamat aku malu banget.
Setelah benar-benar dekat,ternyata dia memang mbak Amel. Seperti pemenang dalam lomba aku merasa sangat bahagia.
Akhirnya perjalananku tidak sia-sia. Fiuuuuhhh...
Lanjut ke cerita hari ini....
Kalau kemarin bingung nyari mbak Amel, pagi hari ini aku bingung nyari Chandra,
sahabat karibku sejak SMP dulu.
Dia SMS kalau tempat untuk seminar diganti, dari gedung rektor pindah di gedung PLA FBS lantai 3.
Kalau gedung rektor aja aku udah hafal di luar kepala tapi kalau PLA FBS? Chandra udah nunggu di gedung ini. Untung mbak Amel bilang kalau gedungitu tempat yang buat nunggu mbak Amel kemarin jadi aku tinggal nginget-nginget jalannya aja. Kebetulan mbak Amel hari ini
berangkat jam 10. Jadi aku berangkat duluan. Lagi-lagi sendiri.
Setelah kupastikan langkahku benar dengan sedikit celingukan aku mencari sesosok Chandra. Dari kejauhan Chandra melambaikan tangan. Fiuuuhhhh, itu dia akhirnya ketemu juga. Sesosok yang selama ini kurindukan.
Naik ke lantai 3, daftar dan menunggu pintu seminar dibuka. Dari kabar katanya acara mulai jam 7. Apaan??? Jam 8 aja pintu buat seminar masih tertutup. Tapi nggak apa-apa yang penting nggak telat. Hehe.. Sambil nunggu pintu dibuka narsis dulu ah.. Foto-foto sama Chandra.
Ciiisss.. Jepreeettt...
Seminar di mulai. Acara pembukaan dan gema wahyu ilahi dengan terjemahan 5 bahasa telah berlangsung.
Dua pembawa acara laki-laki itu menawarkan kepada para seminar untuk 3 orang maju ke depan. Kulirik semua peserta belum ada yang beranjak,
akhirnya ku beranikan mengawali berdiri. Disusul satu cowok dari UIN SUKA dan satu cewek dari UNY sendiri. Huhhh.. agak canggung juga berdiri di depan mahasiswa dan mahasiswi . Suruh ngapain ya?? Setelah kami bertiga berdiri sejajar menghadap para seminar, pembawa acara mempersilakan kami untuk mengenalkan diri. Suruh sebut nama, instansi dan mengomentari karya-karya pak Habiburrahman El Shirazy.
Dua temanku mahasiswa semua.
Mereka enjoy aja tinggal nyebutin instansinya masing-masing. Aku??? Hmm.. Kini tibalah giliranku,
orang terakhir yang memperkenalkan diri setelah mereka.
“Assalamualaikum wr wb... Perkenalkan nama saya Septi Wijianti salah seorang santriwati dari Pondok Pesantren Darul Quran Wonosari.
Bla... Bla... Bla....”.
Setelah selesai berkomentar, tepuk tangan bergemuruh. Chiee.. lebay.com. Akhirnya setelah MC menanggapi sebentar,
datang sebuah bingkisan.
Wow, bingkisan yang sangat menarik sebuah karya dari Pak Habiburrahman El Shirazy. Ada 3 bingkisan. Novel tipis, sedang dan tebal.
Novel paling tebal telah dipegang mas-mas yang mau nyerahin. Mas itu udah berdiri di depan cowok yang dari UIN.
Tak disangka masnya nglirik ke aku dan dia bergeser 2 langkah sampai dihadapanku melewati mbak yang dari UNY.
Dia nyerahin novel tebal itu ke aku. Wah, surprice banget... Thanks mas.. J
Novel tebal Bumi Cinta kupegang erat hingga ke kursi tempat dudukku. Teman-teman sebelahku pada antri pengen liat.
Aku jadi berangan-angan, andai saja aku bisa mintain tanda tangan langsung dari penulis, Habiburrahman El Shirazy. Harapan tinggal harapan,
Chandra bilang peserta seminar yang bukan VIP nggak ikut acara khusus ”meet and great” sama Pak Habib.
Padahal aku pengen banget bisa ngobrol lansung. Syukur-syukur bisa foto bareng. Perasaan kecewa tiba-tiba menyelimutiku.
Peserta VIP adalah peserta yang bayarnya Rp 45.000,- lebih 5 ribu dari yang biasa.
20 pendaftar pertama juga VIP. Dan aku bukan termasuk dua golongan itu. Enaknya lagi peserta VIP dapet tempat duduk 2 baris dari depan.
Mereka bisa liat pak Habib dengan jelas. Sebenarnya aku kecewa berat tapi kupendam diam-diam. Sebisa mungkin pasang wajah happy.
Aku nggak mau Chandra tahu hal ini. Bisa merasa bersalah dia. L
Momen yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Ketika MC mempersilakan Pak Habib memasuki ruang seminar,
sejak itu pula mataku siap menanti kedatangan beliau. Nggak sabar pengen liat penulis idola “live” kala pintu terbuka.
Krieeetttt....
Pintu terbuka, Pak Habib muncul dengan segala karisma yang begitu menarik. Ooopsss.. aku lupa, mataku minus .
Wajah yang ingin sekali kulihat terlihat kabur seperti di blur. Aku segera mengambil HP Nokia yang dipinjemin mbak Amel tadi pagi.
Aku mencoba mendokumentasikan tokoh idolaku. Kurang beruntung, wajah yang kutangkap dari jepretan kamera HP tidak terlalu jelas.
Secara aku dari jarak jauh. Aku inget, kemarin lumayan beruntung karena shalawat. Aku bersholawat lirih berharap hati yang kecewa inisegera terobati dan diperlancar dalam mengikuti seminar.
Semangat itu muncul tiba-tiba. Tidak apa-apa, rasa cinta seorang fans kepada tokoh idola mengalahkan kekurangberuntungan ini.
Hingga suara yang kutunggu-tunggu keluar juga. Nyleesss.... Aku tersenyum terasa begitu nyaman. Suara yang begitu halus,
bijaksana dan juga tegas.
Seperti halnya jika aku mendengar suara Abi Kharis. Semua terasa begitu nyaman. Setiap kata dari beliau kucatat sebisaku.
Aku menikmati acara ini dengan penuh rasa gembira dan semangat menggelora. Aku tak mau menyia-nyiakan acara ini.
Apalagi jika aku teringat bahwa aku bisa berada di tempat ini karena uang pinjaman. Aku berusaha semaksimal mungkinmemeras ilmu yang disampaikan Pak Habib. Kadang tertawa, kadang sedih ikut prihatin, kadang semangat menggelora,
kata-kata itu mengalir dan dengan cepatnya mempengaruhi perasaan kami para seminar.
Tiba-tiba aku ingat, biasanya kalau ada acara seminar pasti ada acara tanya jawab. Kupersiapkan dahulu serangkaian
pertanyaan untuk Pak Habib nanti.
Mengingat aku bukan peserta seminar VIP jadi inilah jalan satu-satunya untuk bisa berkomunikasi secara langsung dengan Pak Habib.
Setelah satu pertanyaan berhasil kubuat, aku kembali menyimak apa yang disampaikan beliau. Ternyata dugaanku tidak meleset.
Setelah pak Habib mengakhiri pembicaraannya acara diganti dengan diskusi. Berarti ada tanya jawab antara para seminar dan pembicara.
Aku tak menyia-nyiakan momen ini. Bahkan sebelum diminta untuk mengacungkan tanganpun banyak para seminar yang terlebih
dahulu mengangkat tangan.
Begitupun aku tak mau ketinggalan. Ini kesempatanku untuk berkomunikasi langsung dengan penulis idola. Setidaknya berbicara satu dua patah
kata pun aku sudah senang. Pembawa acara akhirnya hanya memperbolehkan 3 pertanyaan saja dari para seminar setelah dimulai dari aba-aba
hitungan 1, 2 ,3 bagi 3 pengacung pertama. Aba-aba dimulai 1, 2, 3... dan HAPPP.. kuacungkan tangan berusaha melebihi
kecepatannya dengan yang lain.Pembawa acara memilih 3 orang pertama.
“ Satu masnya yang itu mohon berdiri, mbak yang belakang itu dan hmm......”.
Kurang satu. Masnya masih mengitarkan pandangan ke semua peserta. Dari banyaknya peserta seminar ini hanya dipilih 3 orang??
Aku ciut dan hanya bisa berharap-harap cemas. Tangan kuangkat lebih tinggi lagi. Dan......
“ Yah, itu mbak yang pake kerudung biru.”, tunjuk masnya.
Masnya liat ke arahku. Ku kitarkan pandangan ke semua peserta. Hanya aku yang pake jilbab biru. Yess,
berhasillll...... Yihaaa... J
Pertanyaan pertama dari seorang cowok, mengenai sebuah karakter yang kuat dalam setiap novel yang di tulis pak Habib. Kedua dari seorang mbak yang di belakang pertanyaannya banyak banget sampe nggak bisa nyerna. Ketiga dari aku sendiri mengenai cara menulis setting tempat yang di tulis begitu detail oleh pak Habib. Dimanapun tempatnya entah di dalam atau luar negeri pasti tergambar dengan jelas.
Seolah pembaca ikut masuk ke dalam cerita yang digambarkan. Pernah jelajahkah??? J
Satu yang berkesan waktu bertanya langsung dengan pak Habib , beliau menanggapi dengan sedikit guyonan ketika aku mencontohkan setting tempat di Rusia dalam novel Bumi Cinta. Pak Habib langsung menyela,
“O, novel yang ini tho..!”, kata Pak Habib tersenyum sambil mengangkat novel Bumi Cinta dari atas meja. Padahal 2 peserta tadi yang bertanya,ekspresi beliau datar-datar saja. Haha.. mungkin aku yang kePDan kali ya. Banyak pelajaran yang dapat kuambil dari jawaban pak Habib tadi,
“Menulis setting tempat lebih mudah dipahami jika penjelasannya detail. Kalau kita tahu setting tempat yang akan kita tulis, itu mudah.
Tapi kalau semisal tempatnya tidak diketahui bisa pinjam mata dan telinga kepada orang lain yang mengetahuinya. Seperti pengalaman saya.
Banyak orang yang mengomentari bahwa saya menulis setting tempat yang detail seperti di Kairo, atau sekitar Jawa Tengah itu dikatakan mudah
dengan alasan saya pernah mengetahuinya bahkan hafal. Tiba-tiba saya tertantang untuk menulis novel yang setting tempatnya belum saya ketahui.
Akhirnya saya mengeluarkan tulisan yang berjudul Bumi Cinta dengan setting tempat di Rusia untuk membuktikan kepada mereka. Saya belum pernah
ke Rusia tapi saya meminjam mata dan telinga kepada orang-orang yang telah mengenal Rusia. Bahkan saya sampai
harus nginep-nginep di tempat mereka demi memperoleh data yang akurat. Riset Bumi Cinta itu satu tahun.”
Subhanallah, sungguh perjuangan sekali menjadi seorang penulis seperti pak Habib. Tak heran kalau karya yang diciptakan juga luar biasa.
Sekarang pak Habib tinggal memanen buah hasil jerih payah beliau. Menjadi novelis no 1 seIndonesia. Karyanya pun nggak cukup
dengan stempel Best Seller.
Tapi udah Mega Best Seller. Semua karyanya di nanti semua orang se Asia Tenggara. Amazing...!!! J
Ada juga cerita yang berkesan dari pengalaman pak Habib. Ternyata novel Ayat-Ayat Cinta itu sebelum diterbitin jadi maharnya Pak Habib waktu menikah.
Seperti ceritanya Imam Bukhori ketika ingin menikah menciptakan suatu karya untuk mahar. Next.. Tahukah kalian??? Kalau tokoh Azam yang berjualan
tempe di Mesir itu adalah pengalaman hidup Pak Habib sendiri.
Selesai acara tanya jawab. Aku puas bisa berkomunikasi langsung dengan pak Habib. Hanya satu yang kurang, aku belum bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Aku duduk di barisan no 3 paling kiri. Jadi tetep nggak bisa liat beliau dengan jelas. Diam-diam kupanjatkan doa, “Semoga suatu saat nanti entah kapan aku bisa sowan ke pondok Basmala, Semarang, tempatnya pak Habib biar tahu wajahnya dengan jelas jika hari ini aku belum bisa melihatnya.”
As-Samiiiiii’.....
Allah mendengar doaku. Tiba-tiba saja pembawa acara menyuruh 2 orang yang bertanya untuk maju ke depan untuk menerima kenang-kenangan langsung dari pak Habib. Kok 2? Yang 1? Ternyata mbak yang bertanya dari belakang tadi
adalah seorang panitia. Jadi yang disuruh
maju cuman aku sama masnya. Aku diam seribu bahasa. Seperti mimpi. Benarkah??? Beberapa detik lagi aku akan bertatap muka dengan jarak yang lebih dekat dengan penulis idola, Pak Habiburrahman El Shirazy. Yang maju gantian, masnya dulu baru aku. Ketika masnya maju, dia diberi novel
dengan tanda tangan langsung dari penulis. Jantungku semakin berdegup. Duniaku antara nyata dan tidak. Benar-benar seperti mimpi.
Selanjutnya giliranku untuk ke depan menerima kenangkenangan dari Pak Habib. Dan benar, kala aku menaiki lantai panggung seuntai
senyum tulus dari pak Habib terlempar kepadaku. Aku membalas senyumnya. Penyerahan novel kenang-kenangan disaksikan semua orang di ruangan itu, tak ketinggalan dokumenter juga mengabadikan momen itu dengan kameranya.
Aku bisa foto bareng Pak Habib??? Sulit dipercaya. Ini benar-benar seperti mimpi.
Aku berjalan menuju tempat duduk. Ada perasaan bahagia tiada terkira. Rasa syukur yang mendalam. Tiba-tiba aku teringat,
tadi sempat mengucapkan sholawat dan berdoa supaya diperlancar dalam seminar. Dan ini jawabannya. Terimakasih Ya Rabb..
-------@_@-------
Gunungkidul, 5 Desember 2013
Kemarin waktu pulang dari seminar perasaan bahagia itu surut sedikit demi sedikit. Ada perasaan gelisah kala mengingat tentang hutang yang harus kubayar. Kebahagian itu seakan cepat berlalu. Manisnya tebu telah menjadi sepah.
Tapi aku mencoba menghibur diri dengan mengelus novel kenangkenangan dari pak Habib.
Walhasil, aku bisa tersenyum. Seakan semangatku bangkit lagi. Aku berusaha berfikir tenang.
Menciptakan keyakinan dalam hati bahwa jika Allah meridhoi apa yang kulakukan ini suatu saat nanti pasti akan diganti. Kegelisahan itu hanya bisa kulawan dengan shalawat.
Jadi keinget pesennya mas Wahab, “Doa itu kalau ingin kabul kuncinya satu YAKIN.
” Ya, satu kekuatan muncul YAKIN. Yakin kalau Allah pasti akan membantuku.
Tidak mungkin Allah memberi cobaan diluar kemampuan hambaNya. Betul???
Benar kata mas Wahab, ustadz yang paling kusegani di pondok pesantren. Kunci doa adalah YAKIN.
Malam rabu kemarin waktu aku pulang dari pengajian malam raboan, dengan mata setengah
melek aku dipanggil mbak Inay di kantor. Kesel juga ngantuk-ngantuk suruh mampir kantor.
Padahal dalam benakku hanya ada kasur sama selimut.
Rencana kalau udah nyampe pondok putri, langsung masuk kamar dan siap untuk
berpetualang di dunia mimpi alias tidur nyenyak. Akhirnya masuk juga ke kantor
nemuin mbak Inay dengan terpaksa. Ternyata cuman suruh tanda tangan.
Abis itu sebuah amplop dikeluarkan dari sakunya. Dia menyodorkan amplop itu padaku
sambil berkata, “Ini ada sedikit bisyaroh pendamping dari Abi dan Umi silakan diterima seadanya.”
Mata yang setengah melek tiba-tiba melek sempurna. Ku terima amplop itu dengan senyum
mengembang. Kuucapkan terimakasih dan bergegas keluar. Saat ku buka isinya.
Alhamdulillah cukup untuk menutup lubang di kantin. Tiba-tiba aku merasa sangat bersyukur.
Mungkin ini ganti yang diberikan Allah untukku. Ini jawaban doaku dengan kunci YAKIN. Subhanallah... Kun Fayakun...
-------@_@-------


subehanallah,.
BalasHapus